Informasi
Bitcoin, Ethereum, Coin, dan Token? Ini Penjelasannya
Bitcoin adalah cryptocurrency dengan aset native BTC, sedangkan Ethereum merupakan jaringan blockchain yang memiliki aset native bernama Ether (ETH). Secara umum, coin adalah aset native dari blockchain miliknya sendiri, sementara token merupakan aset digital yang dibuat menggunakan blockchain yang sudah ada, misalnya token ERC-20 di Ethereum.

Bitcoin, Ethereum, coin, dan token merupakan istilah yang sering muncul ketika seseorang mulai mengenal cryptocurrency. Meskipun kerap disebut dalam konteks yang sama, keempatnya tidak memiliki arti yang persis sama.
Bitcoin (BTC) adalah cryptocurrency yang berjalan di jaringan Bitcoin, sedangkan Ethereum adalah jaringan blockchain yang memiliki aset native bernama Ether (ETH). Sementara itu, istilah coin umumnya digunakan untuk aset native suatu blockchain, sedangkan token adalah aset digital yang dibuat menggunakan infrastruktur blockchain yang sudah ada.
Memahami perbedaan ini bukan hanya soal istilah. Ketika membeli atau mengirim crypto, pengetahuan tersebut membantu Anda mengenali aset yang digunakan, memahami jaringan transaksinya, dan mengurangi risiko salah memilih jaringan.
Apa Itu Bitcoin?
Bitcoin adalah cryptocurrency yang diperkenalkan pada 2009. Bitcoin dirancang sebagai sistem uang digital peer-to-peer yang memungkinkan pengguna mengirim dan menerima nilai secara langsung melalui jaringan tanpa bergantung pada satu otoritas pusat.
Aset Bitcoin menggunakan simbol BTC. Transaksi BTC dicatat dan diverifikasi melalui jaringan blockchain Bitcoin.
Bitcoin memiliki beberapa karakteristik utama:
Aset native: BTC merupakan aset asli jaringan Bitcoin, bukan token yang diterbitkan melalui smart contract di blockchain lain.
Pasokan terbatas: Protokol Bitcoin menetapkan batas maksimum penerbitan sebanyak 21 juta BTC.
Transaksi digital: BTC dapat dikirim dari satu alamat Bitcoin ke alamat lainnya.
Nilai yang berubah: Harga BTC dapat naik atau turun mengikuti kondisi pasar dan permintaan.
Bitcoin sering digunakan sebagai contoh cryptocurrency karena merupakan aset crypto pertama yang dikenal luas. Namun, BTC bukan satu-satunya jenis aset digital yang tersedia saat ini.
Apa Itu Ethereum?
Ethereum adalah jaringan blockchain yang dapat menjalankan program bernama smart contract. Teknologi ini memungkinkan pengembang membangun aplikasi dan menerbitkan berbagai aset digital di atas jaringan Ethereum.
Hal penting yang perlu dibedakan adalah Ethereum dan Ether bukanlah istilah yang sama.
Ethereum: Nama jaringan blockchain dan platform yang mendukung aplikasi terdesentralisasi.
Ether (ETH): Cryptocurrency native yang digunakan dalam ekosistem Ethereum, termasuk untuk membayar biaya transaksi atau gas fee pada jaringan Ethereum.
ETH juga dapat digunakan untuk mengirim nilai digital dan berinteraksi dengan berbagai aplikasi berbasis Ethereum.
Karena Ethereum mendukung pembuatan aset digital melalui smart contract, jaringan ini menjadi tempat penerbitan berbagai token, termasuk token yang digunakan sebagai mata uang digital, aset utilitas, maupun instrumen lain.
Dengan demikian, Ethereum bukan sekadar nama lain untuk ETH. Ethereum adalah jaringannya, sedangkan ETH merupakan aset native yang digunakan di jaringan tersebut.
Apa Itu Coin dalam Crypto?
Dalam penggunaan umum di industri cryptocurrency, coin adalah aset digital yang menjadi mata uang native dari blockchain miliknya sendiri.
Contoh sederhananya:
BTC: Coin native jaringan Bitcoin.
ETH: Coin native jaringan Ethereum.
Coin dapat digunakan untuk mengirim nilai digital. Bergantung pada desain blockchain masing-masing, coin juga dapat berperan dalam membayar biaya transaksi atau mendukung mekanisme operasional jaringan.
Namun, istilah coin dalam percakapan sehari-hari terkadang digunakan secara longgar untuk menyebut cryptocurrency secara umum. Karena itu, Anda mungkin menemukan orang menyebut berbagai aset digital sebagai coin meskipun secara teknis aset tersebut merupakan token.
Untuk memahami suatu aset dengan lebih tepat, perhatikan nama aset, simbolnya, serta blockchain tempat aset itu diterbitkan atau digunakan.
Apa Itu Token Crypto?
Token adalah aset digital yang diterbitkan menggunakan blockchain yang sudah ada, biasanya melalui smart contract atau mekanisme penerbitan aset pada jaringan tersebut.
Berbeda dari coin native, token tidak harus memiliki blockchain independen sendiri. Token memanfaatkan infrastruktur jaringan tempat token itu diterbitkan untuk menjalankan dan mencatat transaksi.
Token dapat memiliki beragam fungsi, misalnya:
Stablecoin: Token yang dirancang untuk mempertahankan nilai terhadap acuan tertentu, seperti dolar AS. Nilainya tetap memiliki risiko dan tidak selalu dijamin stabil.
Utility token: Token yang memberikan akses atau kegunaan tertentu dalam suatu layanan atau ekosistem.
Governance token: Token yang dapat memberikan hak suara dalam mekanisme tata kelola proyek tertentu.
Token koleksi digital: Aset digital yang dapat mewakili barang koleksi atau item unik, bergantung pada standar dan implementasinya.
Salah satu contoh standar token adalah ERC-20, yang digunakan untuk token fungible di Ethereum. Standar ini membantu token berinteraksi dengan berbagai aplikasi yang mendukungnya.
Perlu diingat, token yang menggunakan blockchain Ethereum tidak otomatis sama dengan ETH. Keduanya dapat berada di jaringan yang sama, tetapi merupakan aset yang berbeda.
Perbedaan Coin dan Token
Perbedaan utamanya terletak pada hubungan aset dengan blockchain yang digunakan.
Aspek | Coin | Token |
|---|---|---|
Infrastruktur | Menjadi aset native blockchain sendiri | Menggunakan blockchain yang sudah ada |
Contoh | BTC pada Bitcoin, ETH pada Ethereum | Token ERC-20 pada Ethereum |
Penerbitan | Mengikuti aturan protokol blockchain | Mengikuti mekanisme dan aturan penerbitan token |
Fungsi | Dapat digunakan untuk transfer nilai dan operasional jaringan | Bergantung pada tujuan dan desain token |
Biaya transaksi | Umumnya dibayar menggunakan aset native jaringan | Transaksi token biasanya tetap memerlukan aset native untuk biaya jaringan |
Tabel ini menggambarkan penggunaan istilah yang umum. Implementasi teknis setiap blockchain bisa berbeda, sehingga tidak semua aset dapat diklasifikasikan hanya berdasarkan nama atau simbolnya.
Contoh Memahami Bitcoin, Ethereum, Coin, dan Token
Bayangkan Anda sedang melihat beberapa aset crypto di aplikasi atau layanan pembayaran.
Contoh pertama: BTC. Anda melihat Bitcoin dengan simbol BTC. BTC merupakan coin native jaringan Bitcoin. Jika ingin mengirim BTC, Anda perlu memastikan alamat tujuan dan jaringan yang digunakan sesuai dengan Bitcoin.
Contoh kedua: ETH. Anda melihat Ether dengan simbol ETH. ETH merupakan coin native jaringan Ethereum. Jangan menyamakan ETH dengan Ethereum sebagai nama jaringan.
Contoh ketiga: USDT. USDT adalah stablecoin yang diterbitkan dalam berbagai jaringan blockchain. USDT pada satu jaringan tidak selalu dapat diperlakukan sama dengan USDT pada jaringan lainnya untuk keperluan pengiriman. Anda perlu memastikan jaringan yang didukung oleh pengirim dan penerima sesuai.
Contoh keempat: token ERC-20. Sebuah proyek menerbitkan token melalui smart contract di Ethereum. Token tersebut menggunakan infrastruktur Ethereum, tetapi bukan berarti token itu adalah ETH.
Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa nama aset saja belum cukup untuk menentukan cara mengirimnya. Jenis aset dan jaringan transaksi merupakan dua informasi berbeda yang perlu diperiksa.
Mengapa Perbedaan Aset dan Jaringan Penting Saat Mengirim Crypto?
Kesalahan memahami coin, token, dan jaringan dapat menimbulkan masalah ketika melakukan transfer crypto. Risiko utamanya adalah memilih jaringan yang tidak didukung oleh alamat penerima atau layanan tujuan.
Sebelum mengirim crypto, lakukan pemeriksaan berikut:
Pastikan aset yang diminta. Periksa apakah penerima meminta BTC, ETH, USDT, atau token tertentu. Jangan hanya mengandalkan nama yang mirip.
Periksa jaringan yang didukung. Jika aset tersedia pada beberapa jaringan, pastikan jaringan yang dipilih sesuai dengan instruksi penerima.
Periksa alamat tujuan. Gunakan alamat yang diberikan melalui kanal resmi dan pastikan alamat tersebut sesuai dengan aset serta jaringan yang digunakan.
Perhatikan biaya transaksi. Setiap jaringan memiliki ketentuan biaya tersendiri. Pengiriman token juga dapat memerlukan aset native jaringan untuk membayar biaya transaksi.
Periksa jumlah dan ketentuan minimum. Pastikan nominal transfer memenuhi persyaratan penerima, termasuk minimum deposit jika ada.
Simpan bukti transaksi. Catat transaction hash atau TXID setelah transaksi dikirim agar statusnya dapat ditelusuri.
Jangan berasumsi bahwa dua aset dengan simbol atau nama serupa dapat dikirim menggunakan jaringan yang sama. Jika Anda tidak yakin, periksa dokumentasi resmi jaringan dan instruksi penerima sebelum melakukan transfer.
Apa Hubungannya dengan Pembelian dan Pembayaran Crypto?
Memahami istilah crypto membantu Anda menentukan aset yang sesuai ketika ingin membeli atau membayar menggunakan cryptocurrency.
Secara umum, prosesnya meliputi tiga hal:
Memilih aset: Tentukan cryptocurrency yang diperlukan berdasarkan permintaan penerima atau layanan.
Memastikan jaringan: Periksa jaringan yang didukung dan ketentuan pengiriman.
Melakukan pembayaran: Kirim aset sesuai alamat, nominal, dan instruksi yang diberikan oleh penerima.
BayarCrypto.com berfokus pada kebutuhan penggunaan crypto dalam pembayaran. Sebelum menggunakan layanan untuk kebutuhan tertentu, pastikan aset, jaringan, dan alur transaksi yang diperlukan memang tersedia pada layanan tersebut. Dukungan terhadap satu aset atau jaringan tidak boleh diasumsikan berlaku untuk semua aset maupun jaringan.
Dengan memahami perbedaan coin dan token sejak awal, Anda dapat membaca instruksi pembayaran dengan lebih teliti dan mengetahui informasi apa saja yang perlu dikonfirmasi sebelum transaksi.
BayarCrypto
Bayar crypto dengan Rupiah, kirim ke wallet mana saja
Harga transparan, pembayaran lewat Virtual Account atau QRIS.
Mulai TransaksiArtikel terkait

Mengenal Crypto Wallet, Alamat, Private Key, dan Seed Phrase
Artikel ini menjelaskan perbedaan fungsi crypto wallet, alamat wallet, private key, dan seed phrase, termasuk cara kerja serta hubungan keempatnya dalam transaksi crypto.

Apa Itu Cryptocurrency? Pengertian, Cara Kerja, dan Contohnya
Artikel ini menjelaskan cara kerja crypto mulai dari pembuatan dan validasi transaksi hingga pencatatan di blockchain, perbedaan cryptocurrency dengan uang digital di rekening bank, serta jenis aset seperti Bitcoin, Ether, dan stablecoin USDT.

Tips Membayar Crypto di Telegram dan Menghindari Penipuan
Artikel ini membahas cara membayar layanan atau membeli produk menggunakan crypto melalui Telegram dengan tetap mengutamakan keamanan. Sebelum melakukan pembayaran, pastikan identitas dan reputasi penjual jelas, periksa alamat wallet, aset crypto, jaringan, nominal, serta biaya transaksi agar tidak terjadi kesalahan pengiriman.

